Anakmu, Pembebas atau Penjerumus?
![]() |
| sumber: Google |
Anak merupakan titipan Allah yang dibebankan kepada
hamba-hamba-Nya. Setiap orang tua diharuskan menjaga, mendidik buah hatinya. Sebagaimana
tercantum dalam firmannya:
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6). Ayat ini dengan sangat
tegas mewajibkan kepada setiap jiwa untuk memelihara atau menjauhakan dirinya
juga keluarganya dari siksaan api neraka.
Menyoal
tentang mengurus anak, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma pun berkata
dalam kitab Tuhfah al Maudud :
“Didiklah
anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai
pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga
akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu
Seorang
anak adalah investasi dunia dan akhirat bagi kedua orangtuanya, bagaimana
tidak, baik buruknya seorang anak akan sampai (berdampak) kepada mereka. Jika
anaknya shaleh maka, pahala mengalir untuk orangtuanya, namun celakalah, bila
sebaliknya, apabila anaknya bermaksiat kepada Allah, maka siksa Allah bagi
keduanya. Dengan begitu mendidik Anak adalah persoalan yang sangat urgen. Bukan main-main.
Sebab akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Namun, fenomena
yang ada saat ini, justru banyak dari orangtua yang lepas tangan dalam mengurusi
dan mendidik putra-putrinya. Sebagian besar sebabnya adalah kesibukan terhadap
urusan dunia. Banyak orang tua yang menelantarkan, membiarkan anaknya jauh dari
pengawasan atau pantauannya. Sehingga akibat buruknya, banyak anak-anak yang
melakukan pergaulan bebas, imannya tipis, sehingga mudah terjerumus pada
prilaku yang menyimpang dari ajaran Agama Islam.
Setiap orang
tua tentu menginginkan anak yang shaleh dan shalehah, tapi sedikit dari mereka
yang menyadari atau salah jalan dalam mendidik putra-putrinya, ada tiga macam
tipe anak:
Pertama, Anak yang dapat menjerumuskan orang
tuanya, melimpahkan siksa dan azab atas perbuatan buruknya. Anak macam ini
adalah anak yang tidak didik dengan agama, dibiarkan bergaul tanpa pengawasan yang
ketat, sehingga boleh jadi sejak di dunia pun anak semacam ini sudah sangat merugikan,
apalagi di akhirat nanti. Gambaran anak semacam ini banyak, sangat bisa kita
temukan di sekiar kita. Jadi, anak yang merugikan bukan saja anak yang durhaka
kepada ibu, bapaknya.
Kedua, anak
yang mengangkat derajat orang tuanya di dunia saja. Ya, anak seperti ini, merupakan
anak yang dididik dan diarahkan untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia
saja. Dan tidak peduli dengan pendidikan agamanya. Seperti halnya anak yang
diantarkan oleh orang tuanya menuju cita-citanya. Banyak orang tua yang bangga
dengan prestasi atau jabatan anak-anaknya, ketika di dunia, ia bahkan sangat bahagia dengan pencapaina
putra-putrinya itu. Namun mereka lengah, sehingga tidak memikirkan pendidikan
agamanya. Padahal itu lah yang lebih urgen, sebab pendidikan agama lah yang
nantinya akan dapat menuntun buah hatinya di sepanjang kehidupannya.
Ketiga, anak
tipe terakhir ini anak yang qurratul A’yun, yaitu anak yang shaleh dan shaleha,
di didik penuh oleh kedua orang tuanya, sehingga dapat membawa mereka ke surga.
Anak yang sejak di dunia pun sudah menjadi pintu rahmat untuk kedua orang
tuanya. Anak yang akan menjadi investasi tinggi. Anak yang senantiasa berbuat
baik dan tak pernah lepas dari mendoakan keduanya. Semoga kita, mampu mendidik
anak kita dengan baik, sehingga menjadi pembuka jalan kita menuju surga. Dan juga
semoga kita menjadi anak yang Quratatul A’yun bagi kedua orang tua. Amin.
Wallahu A’lam.

No comments:
Post a Comment