Sunday, 20 March 2016

Semua Akan Mati Pada Waktunya



Semua akan indah pada waktunya. Begitu ungkapan yang seringkali mendarat di telinga kita, seketika  keluar juga dari lisan kita. Sepengalaman saya, hal itu dikendarai oleh berbagai motif, mulai dari sekadar  hiburan atau bahkan justru jadi obat penyembuh. Ya, memang tidak dimungkiri, sedikit banyaknya kalimat semacam itu menjadi pilihan banyak orang untuk dijadikan motivasi agar tak sampai berhenti berharap. Sebab, biasanya kalimat seperti itu biasa tumbuh ketika menyadari orang lain sudah berhasil menggenggam sesuatu, padahal kita sendiri belum. Dari sanalah, kemudian muncul kalimat “Semua akan indah pada waktunya” atau yang serupa. Bagi seorang jomblo “Semua akan menikah pada waktunya” atau bagi seorang pelajar “ Semua akan wisuda pada waktunya” mungkin juga bagi pengangguran, akan mengatakan “Semua akan bekerja pada waktunya” atau sejenis yang lainnya. 

Tetapi, sayang sekali, kita ini malah melupakan satu ungkapan yang berkaitan dengan ini.  Yang seharusnya lebih dulu  kita renungkan, “ Semua akan mati pada waktunya”? Benar, urusan mati memang sedikit yang mengingatnya. Padahal, justru kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi seperti yang telah Allah sebutkan dalam salah satu firmannya "Di mana pun kalian berada pasti kematian merengut kalian walaupun dalam benteng yang kokoh." (QS An Nisa: 78).

Ingatlah selalu pada kematian, karena dengan mengingatnya, kita pasti akan senantiasa bersiap-siap untuk menghadapinya,.Rasulullah Saw. memuji umatnya yang selalu ingat kematian dengan sebutan orang-orang cerdas, “Orang cerdas adalah orang yang mengekang hawa nafsunya dan mempersiapkan perbekalan untuk kehidupan setelah mati. Adapun orang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Baihaqi).

Kita mesti sadar dengan sesadar-sadarnya. Bahwa ada yang lebih harus kita persiapkan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya kematian itu lebih dekat dari apapun  kehidupan di dunia, hanya sebuah jalan menuju tempat keabadian yang hakiki yaitu alam akhirat. Kadang, kita  begitu polos. Merasa masih muda, padahal mati tidak harus tua, merasa sehat, padahal mati tidak mesti sakit. Jelasini pertanda, kita tertipu dan terpedaya kemolekan dunia. Astaghfirullah

Jangan terkecoh lagi dengan permainan dunia ini. Taatlah pada Allah, bangunlah salat malam, tadaburi Alquran, penuhi panggilan Allah untuk berjamaah di rumahNya, tebarkan sedekah dan kebaikan, bimbing keluarga agar semakin takut pada Allah, rendahkan hati.
"Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik baik bekal adalah takwa." (QS Al Baqarah: 197).
Allahumma ya Allah, tancapkan di hati kami keindahan iman, kelezatan taat, kemuliaan akhlak dan wafatkanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

1 comment:

Zam'zam said...

Assslamu'alaikum wr wb.
Th kanggo kontak sekre na aya wa teu nya, sa te acan kdinya manawi tiasa hla naros margi rada tebih....hehehe

Tags

Artikel (10) Pesantren (7) IAIC (5) puisi (4) Kampus (3) Mahasiswa (2) Potret (2) Wawasan (2) Buku (1) Cipasung (1) Inspiratif (1) Resensi (1) Sekolah (1) agama (1) kegiatan (1) traveling (1)