Semua Akan Mati Pada Waktunya
Semua akan indah pada waktunya. Begitu ungkapan yang seringkali
mendarat di telinga kita, seketika keluar juga dari lisan kita. Sepengalaman
saya, hal itu dikendarai oleh berbagai motif, mulai dari sekadar hiburan atau bahkan justru jadi obat
penyembuh. Ya, memang tidak dimungkiri, sedikit banyaknya kalimat semacam itu
menjadi pilihan banyak orang untuk dijadikan motivasi agar tak sampai berhenti
berharap. Sebab, biasanya kalimat seperti itu biasa tumbuh ketika menyadari orang
lain sudah berhasil menggenggam sesuatu, padahal kita sendiri belum. Dari sanalah,
kemudian muncul kalimat “Semua akan indah pada waktunya” atau yang serupa. Bagi
seorang jomblo “Semua akan menikah pada waktunya” atau bagi seorang pelajar “
Semua akan wisuda pada waktunya” mungkin juga bagi pengangguran, akan mengatakan
“Semua akan bekerja pada waktunya” atau sejenis yang lainnya.
Tetapi, sayang sekali, kita ini malah melupakan satu ungkapan yang
berkaitan dengan ini. Yang seharusnya
lebih dulu kita renungkan, “ Semua akan
mati pada waktunya”? Benar, urusan mati memang sedikit yang mengingatnya.
Padahal, justru kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi seperti yang telah Allah
sebutkan dalam salah satu firmannya "Di mana pun kalian berada pasti
kematian merengut kalian walaupun dalam benteng yang kokoh." (QS An
Nisa: 78).
Ingatlah selalu pada kematian, karena dengan
mengingatnya, kita pasti akan senantiasa bersiap-siap untuk menghadapinya,.Rasulullah
Saw. memuji umatnya yang selalu ingat kematian dengan sebutan orang-orang
cerdas, “Orang cerdas adalah orang yang mengekang hawa nafsunya dan
mempersiapkan perbekalan untuk kehidupan setelah mati. Adapun orang lemah
adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah”
(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Baihaqi).
Kita mesti sadar dengan sesadar-sadarnya. Bahwa ada yang lebih
harus kita persiapkan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya kematian itu lebih
dekat dari apapun kehidupan di dunia,
hanya sebuah jalan menuju tempat keabadian yang hakiki yaitu alam akhirat. Kadang,
kita begitu polos. Merasa masih muda,
padahal mati tidak harus tua, merasa sehat, padahal mati tidak mesti sakit.
Jelasini pertanda, kita tertipu dan terpedaya kemolekan dunia. Astaghfirullah
Jangan terkecoh lagi dengan permainan dunia ini. Taatlah pada
Allah, bangunlah salat malam, tadaburi Alquran, penuhi panggilan Allah untuk
berjamaah di rumahNya, tebarkan sedekah dan kebaikan, bimbing keluarga agar
semakin takut pada Allah, rendahkan hati.
"Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik baik bekal adalah takwa." (QS Al Baqarah: 197).
"Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik baik bekal adalah takwa." (QS Al Baqarah: 197).
Allahumma ya Allah, tancapkan di hati kami keindahan iman, kelezatan taat, kemuliaan akhlak dan wafatkanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

1 comment:
Assslamu'alaikum wr wb.
Th kanggo kontak sekre na aya wa teu nya, sa te acan kdinya manawi tiasa hla naros margi rada tebih....hehehe
Post a Comment