Friday, 11 March 2016

Esok, Lail dan Hujan



Lagi-lagi selalu seperti itu, belum miliki novel keluaran teranyarnya, tiba-tiba muncul lagi novel lainnya. Alih-alih membacanya, memegangnya pun belum. Ya, salut sekali dengan novelis yang satu ini, karya-karyanya tidak pernah bertahan lama, nambah dan nambah lagi. Terakhir yang saat ini sedang ramai yaitu novel Hujan, Alhamdulillah kali ini, saya sudah memilikinya, padahal kurang lebih sebulan kebelakang, Tere liye baru saja merilis novelnya yang bertajuk Pulang. Lantas sudah borojol lagi adiknya—Hujan.
Novel ini, dibuka dengan kisah seorang gadis 21 tahun, yang mendatangi pusat terapi saraf. Dia ingin menghapus memori buruknya. Kenangan yang menyakitkan. Ia tak dapat bertahan dengan bayang-bayangan yang terus menguntitnya, hingga hidupnya terasa tak nyaman. Gadis itu bernama Lail, seorang yatim piatu, ia adalah salah satu korban selamat tragedi nahas yang menimpa bumi pada tahun 2042. Ia satu dari dua penumpang yang selamat dari gempa bumi. Pada saat bencana itu terjadi, ia tengah berada dalam kapsul kereta api  bawah tanah. Dan itulah pertamakali Lail dipertemukan dengan seorang laki-laki yang akan sangat berarti dalam kehidupannya. Mulai detik itu hingga seterusnya.
Novel ini memakai alur maju mundur. Hampir seluruh isi dari buku tersebut adalah bercerita tentang kejadian sejak 8 tahun yang lalu hingga hari itu. Ya, sejak usia Lail masih tiga belas tahun dan pemuda itu— Esok yang kemudian dikenal dengan nama Soke Bahtera lima belas tahun, dua tahun lebih tua darinya. Sebenarnya, penulis hendak bercerita tentang romance percintaan, namun hebatnya penulis membalut kisahnya dengan kejadian-kejadian alam, seperti gunung meletus, gempa bumi, musim salju,  bahkan dengan disisipi fakta-fakta sejarah tentang fenomena alam.
Lebih lanjut mengenai isinya, penulis lewat novel ini, membawa kita masuk ke zaman yang belum sama sekali kita singgahi. Masa saat teknologi berkali-kali lipat lebih canggih. Dimana hampir segala sesuatu dijalankan otomatis oleh mesin, robot, atau listrik. Tidak ada lagi pelayan restoran, tidak ada lagi teller bank, jam tangan sudah tidak berbentuk layaknya jam tangan biasa, yang saat ini kita kenakan. Namun yang ada hanya jam digital yang ditanam di tangan, dan multi fungsi. Tidak Cuma untuk mengetahui jam saja, menelepon atau membayar tagihan belanja pun bisa. Super canggih bukan?
Dan tidak hanya itu saja, bahkan, mobil pun bisa beroprasi sendiri, tanpa dikendarai oleh supir atau pemiliknya. Bisa terbang juga loh. Luar biasa!
Sekilas seperti fantasi, menghayal, tapi sepertinya bukan, itu gambaran masa depan. Saat 30 tahun yang akan datang, tidak mustahil, segalanya akan menjadi seperti yang Tere Liye gambarkan dalam novel ini. Selain larut dalam bayangan indah masa depan. Namun, ada yang saya khawatirkan, jika masa itu benar-benar terjadi. Mengapa? Karena, tentu saja saat itu manusia kurang dan bahkan sama sekali tidak lagi dibutukan tenaganya. Kebanyang, bumi akan dijejali manusia pengangguran. Oh, tidak.
Lantas mengenai novel ini, sebagai pembaca saya merasa menyayangkan, karena dalam novel tersebut, penulis banyak mengulang kalimat yang sama, pada jalan cerita novel, seperti kalimat “Ruangan 4x4”, kemudian mengenai hal lainnya, penulis tidak pernah sekali pun menyebutkan nama kota yang menjadi tempat tinggal para tokoh. Namun luar dari itu, secara keseluruhan, penulis sudah behasil mengauk-ngauk emosi pembaca sejak halaman pertama hingga kalimat terakhir. Sehingga pembaca tidak menyesal ketika dikuasai rasa penasarannya, harus merampungkan bacaannya sampai titik paling akhir dari halaman novel ini.
Selanjutnya, sebelum resensi ini saya akhiri,  ada beberapa kalimat yang saya catat, salah satunya adalah. Yang terdapat pada halaman 221.
“Kita tidak akan memperbaiki apa pun dengan keributan.” Ingat itu, dengan baik, Kawan.


2 comments:

Raka Daylami said...

Benar..
Kadang ketika merasakan panas yang sangat, langsung teringat kejadian-kejadian yang ada di dalam Novel Hujan ini.

Imajinasi yang diberikan Tere Liye sangat "Wah" Hingga banyak yang mengantri meminjam Novelnya kepada saya. Hahaha

Unknown said...

Ngeri sekali, membayangkan hariitu. Heu

Tags

Artikel (10) Pesantren (7) IAIC (5) puisi (4) Kampus (3) Mahasiswa (2) Potret (2) Wawasan (2) Buku (1) Cipasung (1) Inspiratif (1) Resensi (1) Sekolah (1) agama (1) kegiatan (1) traveling (1)