MENGUTANGI ALLAH
![]()
| |
Allah itu maha kaya, kenapa kita mesti mengutangkanNya? Sesungguhnya
kitalah yang membutuhkan Allah, dan bukan sebaliknya. Ya. Itu memang benar. Lantas
apa maksudnya mengutangi Allah? Mengutangi di sini, bukan dalam arti
sebenarnya, memberikan pinjaman sesuatu kepada Allah. Bukan.
Jika kita dapat mengutangi Allah.
Maka dua buah keuntungan yang akan kita terima. Satu untuk di dunia, dan satu
lagi akan kita peroleh di akhirat. Saat di dunia juga Allah akan membayar utang
tersebut. Bahkan tak tanggung-tanggung, Allah akan melipatgandakannya, kemudian
pahala atas kesediaan kita mengutangi Allah, akan kita dapatkan di Akhirat
kelak. Luar biasa bukan?
Simaklah kisah sayyidina Ali yang
Insya Allah, dapat menambah keyakinan kita, untuk bersegera mengutangi Allah.
Pada suatu hari, sepulang dari
mesjid, Sayyidina Ali menemui Fatimah, istrinya.
Ali menanyakan bekal makanan untuk hari itu, namun ternyata mereka
sudah tidak punya apapun lagi untuk dapat dimakan. Tetapi, saat itu Fatimah
memegang uang 30 dinar, itu pun adalah upah dari menenun baju perangnya Salman
Alfarisi. Ia lalu memberikannya, dan Ali menerimanya, sejak itu juga Ali
berjalan menuju pasar.
Selanjutnya sebelum tiba di
pasar, ia berjumpa dengan seorang pengemis, juga seorang anak yang terus
merengek dipangkuannya. Sang pengemis itu berkata “Siapakah, orang yang sudi
mengutangi, Allah?” Lalu sang Amirul
Mukminin itu mendekat, dan mengajak bercakap.
Ternyata anak itu, putra dari pengemis tersebut, hal yang menyebabkannya
terus merengek adalah rasa lapar yang tengah dirasakannya. Sebab sudah dua hari
mereka tidak makan. Ali pun akhirnya memberikan 30 dinar itu kepada sang
pengemis.
Kemudian Ali pun kembali pulang. Dan menyampaikan apa yang terjadi
pada dirinya. Setelah mengetahui itu, Fatimah, putri dari sang Rosul samasekali
tidak menyayangkan, tetapi, justru Fatimah
mengucap syukur. Karena dalam keadaan terhimpit pun, sang suami masih mampu
untuk bersedekah.
Dan saat itu pun, akhirnya Ali
melanjutkan perjalanannya lagi untuk mencari sesuatu yang dapat
mengganjal isi perut ia dan keluarganya.
Dan ketika di pertengahan jalan, dari belakang, Ali mendengar ada suara lelaki
yang memanggilnya. Lantas, ia pun mendekati seorang laki-laki tua yang tadi
memanggilnya. Ternyata setelah berbincang, lelaki paruh baya itu, meminta agar
Ali, membeli unta yang dibawanya. Pada mulanya, Ali menolak, karena ia tak
punya sepeser pun uang untuk membeli unta tersebut. Tetapi, pemilik unta itu,
terus saja memaksa, akirnya Ali pun mengiyakan permintaannya. Walaupun dengan
syarat, unta itu dihutang. Kemudian, Pak Tua itu meminta bagian 100 dinar dari
Ali. Setelah itu terjadilah kesepakatan antar keduanya. Ali berjanji padanya,
jika nanti untanya terjual ia akan segera kembali.
Singkat cerita, ayah dari
Hasan dan Husen itu berhasil menjual unta tersebut dengan harga 300 dinar,
ketika ia bermaksud menemui pak Tua tadi, namun sayang, Pak Tua sudah tidak ada
di tempatnya. Ali pun kebingungan, dan ia memutuskan untuk pulang. Ia bercerita
pada Fatimah atas kejadian itu. Dan Fatimah kemudian menyarankan agar Ali
meminta pendapat Rasulallah SAW.
Saat menemui Rasul, dan menyampaikan kegundahannya, ternyata Rasul
sudah lebih tahu terhadap masalah yang menimpa Ali. Dan Rasul menjelaskan bahwa
lelaki yang ia temui sebagai pemilik unta adalah malaikat yang diutus Allah,
untuk membayar utang Allah pada Ali, yang telah diberikan olehnya pada
pengemis.

No comments:
Post a Comment