Tuesday, 13 January 2015

Kamu, Manusia Macam Apa?


                     Kemarin itu, sembari nunggu kembalinya, Nona Fitri dan Nona Wilda yang sedang beli tiket Assalamu’alaikum Beijing, saya putuskan untuk tetap nunggu di Gramed. Ada buku yang menarik perhatian untuk saya buka. Siapa sih yang nggak tahu kalau keunikan juga sekaligus menjadi keuntungan bagi pengunjung Gramedia Tasikmalaya adalah tersedianya buku-buku yang bisa dibaca oleh pengunjung. Mengapa saya sebut “Pengunjung” tidak “Pembeli”? Bagaimana tidak sebab yang datang kesana tidak saja berniat membeli buku, tapi ada juga yang sekadar liat-liat atau baca buku tanpa membelinya..hehee *pengalaman 

Ya, akhirnya saya raih buku itu, buku dengan judul “Jangan Sampai Ada Dan Tiadanya Dirimu Tidak Ada Bedanya” waw, fikir saya dalam hati. Lantas saya lihat bagian bawah covernya, tidak diragukan lagi penulis yang tergolong muda ini bukunya memang keren-keren siapa lagi kalau bukan Mas “Ahmad Rifai Rifan” penulis jebolan ITS ini memang produktif, lebih dari tiga puluh judul buku telah diterbitkan diusianya yang menginjak dua puluh lima tahun. Dia termasuk penulis favorit saya, juga motivator “Nikah Muda” saya. wk wk wk *Serius loh

Dalam bukunya itu, Mas Rifai menggolongkan manusia kedalam beberapa golongan, sebagaimana hukum-hukum dalam syariat Islam, ada wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.

Manusia yang disebut wajib adalah manusia yang kehadirannya dinanti dan kepergiannya disesali.

Dan manusia sunah adalah manusia yang kehadirannya membuat sekitarnya bahagia namun kepergiannya, tidak membuat kehilangan orang sekitar.

Ketiga ada manusia yang bertitel mubah, manusia jenis ini merupakan manusia yang ada dan tidaknya dia tidak begitu berpengaruh. Ada tidak
apa-apa, tiada pun nggak masalah.

Selanjutnya suami dari Mbak Mita Ary ini menyebutkan manusia yang tergolong makruh. Ya manusia seperti ini merupakan manusia yang adanya dia bisa membuat onar sekitarnya, membuat gara-gara atau dengan kata lain kehadirannya mengacaukan. Berarti ketiadaannya lebih baik.

Dan terakhir dalam buku itu, diuraikan manusia no.5 yaitu manusia haram. Adanya sangat tidak diharapkan dan tiadanya suatu kebaikan. Nah, kira-kira kita ini, aku, kamu, dan kalian termasuk manusia no. berapa? Sekali lagi, jangan sampai keberadaan dan ketiadaan kita tidak ada bedanya!

No comments:

Tags

Artikel (10) Pesantren (7) IAIC (5) puisi (4) Kampus (3) Mahasiswa (2) Potret (2) Wawasan (2) Buku (1) Cipasung (1) Inspiratif (1) Resensi (1) Sekolah (1) agama (1) kegiatan (1) traveling (1)