Menulis: Pekerjaan Yang Tidak Ada Ruginya
Dalam definisi KBBI pekerjaan merupakan kata turunan dari kata "kerja" yang berarti sesuatu yang dilakukan atau diperbuat oleh seseorang untuk mencari mata pencaharian.
Dalam menjalani suatu pekerjaan, terkadang ada pekerjaan yang mengasyikan bahkan ada juga yang menyesakan, mengapa? Pasalnya tidak sedikit orang yang memang Allah tempatkan ia dalam pekerjaan yang sesuai dengan hobinya, sehingga ia pun begitu menikmati pekerjaannya. Beda halnya dengan seseorang yang justru Allah pilihkan pekerjaan yang menurut dia tidak cocok dengan dirinya, seperti yang sudah banyak dialami oleh rekan-rekan saya contohnya, seorang sarjana pendidikann yang akhirnya diterima menjadi menejer redaktur sebuah majalah. Atau barangkali kasus seperti itu terjadi dengan diri Anda? :-) .
Sesuai dengan judul, penulis katakan "Menulis adalah pekerjaan yang tidak ada ruginya." Bagaimana tidak? Karena:
pertama, dengan menulis maka dia akan sering membaca, sebab membaca adalah sebuah tuntutan wajib bagi siapapun yang ingin menjadi seorang penulis. Dan dari hasil membaca maka akan semakin luas lah pengetahuan dan ilmu seseorang.
Kedua, dengan menulis maka akan terciptalah pancaran intelektualitas dari dalam diri seseorang, karena apa? Karena jika ia menulis maka ia akan mengarahkan segala kemampuan otaknya. Dengan begitu berarti ia pun telah menjadi seorang pemikir.
Ketiga, dengan menjadi penulis maka ia tidak akan dipertemukan dengan penyesalan dan kerugian apapun karena telah menulis. Sekalipun iya tidak mendapat honor, upah atau semacamnya. Karena dengan menulis pun akan berbuah kepuasan bahkan kebanggaan yang akan dirasakan sendiri oleh Si penulis.
Ngomong-ngomong tentang honor atau upah, bagi seorang penulis upah ibarat suatu bonus atau hadiah. Sama halnya dengan ketenaran, pujian dan peluang lainnya. Sebab menulis itu hakikatnya untuk memberi kemanfaatan pada orang lain saja.
Ke empat, satu hal lagi yang tidak lepas dari pekerjaan yang satu ini, bahwa menulis adalah upaya untuk mengabadikan diri walau kita sudah mati . Jasad bisa mati, tapi karya (baca:tulisan) akan abadi.
Jikapun pada akhirnya tulisan kita tidak diterima khalayak, tidak dimuat di media, atau bahkan dianggap sampah oleh orang lain. Kita tidak perlu marah, apalagi menyesal karena telah menulis. Toh, kita tetap bisa merasakan manisnya menulis. Dan perlu dicatat hal semacam itu adalah tantangan yang juga suatu jalan untuk bahan evaluasi diri. Apakah tulisan kita sudah baik atau belum?.
Sebelum menutup tulisan, penulis simpulkan bahwa, “menulis tidak sebatas menuangkan gagasan atau menyumbangkan buah pikiran saja. Akan tetapi banyak sekali sesuatu yang akan didapat dari menulis.”
So, menulis lah maka anda akan selalu diuntungkan. Ayo... tunggu apalagi. Mari kita menulis ^_^ .


No comments:
Post a Comment