Sejatinya, Menulis Itu Mendokumentasikan
Sabtu lalu, tanggal 28 Februari 2015, saya dengan sejumlah kawan KOPI(Komunitas Penulis IAIC) Menghadiri event Bedah Buku antologi puisi. Acara tersebut bertempat di gedung Pendopo Tasikmalaya (Belakang Alun-alun). Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pelajar, mulai dari Anak SD hingga Perguruan tinggi. Berapa sastrawan dan budayawan Ternama seperti, Kang Acep Zam-zam noor, juga kang Bode Riswandi pun ikut hadir. Bahkan dalam kesempatan itu Kang Bode membacakan 2 puisi milik Penulis Belia, Afrilia Utami-- Penulis antologi puisi bertajuk "Halte Biru".
Dalam moment itu sengaja dihadirkan Pak Hudan Hidayat, selaku kritikus esais Nasional, beliau menjadi pembicara pertama, dan Kang Acep Zam-zam noor menjadi pembicara ke dua.
Siang hari itu, selain bedah buku, para penonton disuguhkan pula hiburan sesaat sebelum dan sesudah acara inti digelar, ada beberapa komunitas yang menampilkan kreasi seninya. Sepeti Kapas dan Komunitas ngejah. Keduanya merupakan komunitas yang tumbuh dan berkembang di Tasikmalaya.
Beranjak dari satu kalimat yang menjadi pemicu bagi saya, untuk kemudian melahirkan tulisan ini. Ada kata yang menarik, kata itu keluar dari Af begitu panggilan untuk Afrilia Utami. Penulis asal Tasik itu dengan sadar mengungkapkan bahwa "Menulis berarti mendokumentasikan". Merasa belum puas begitu saja dengan ungkapannya. Kemudian dengan rasa penasaran yang tinggi akhirnya saya telusuri di beberapa kamus, guna mendapatkan penjelasan lebih rinci tentang kata "Dokumentasi".
Ya, sebagaimana yang sudah populer, bahwa dokumentasi itu identik dengan surat-surat resmi atau photo/gambar yang disimpan. Kata mendokumentasikan merupakan anak dari kata Dokumen. Dan dalam bahasa
inggris dokumen berasal dari kata document yang berarti suatu yang tertulis atau
tercetak dan segala benda yang mempunyai keterangan-keterangan dipilih untuk di
kumpulkan, disusun, disediakan atau untuk disebarkan.
Jika bertolak dari makna dokumen yang berarti sesuatu yang ditulis dan yang di kumpulkan. Maka menulis pun mengumpulkan. Mengumpulkan data, informasi, wawasan dan lain-lain. Ya, selama ini kita belajar mengenai berbagai hal, seperti sejarah, hukum islam, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya salahsatu jalannya dari tulisan. Jika bukan karna kekaryaan para Ulama dan cendekia yang sudah menuliskan segala pengalaman dan pengetahuannya, mungkinkah kita tahu ini dan itu? Dan masih mungkin kah kita mengenal dia dan mereka?.
Nah, meski awalnya saya pikir istilah itu sedikit ganjal, akan tetapi setelah mendapatkan pemahaman yang cukup, akhirnya saya pun mengiyakan bahwa menulis berarti mendokumentasikan. Wallahu A'lam.[]

No comments:
Post a Comment