Santri Cipasung: Memperingati Hari Kemerdekaan Dengan Tahlilan, Doa Bersamadan Segala Macam Kegiatan
70 tahun dirgahayu Republik Indonesia, 70 tahun itu pula bangsa ini bebas dari para penjajah negeri. Yang merampas hak-hak bangsa Indonesia dalam kurun waktu yang tidaklah pendek. 350 tahun nusantara ini dikuasai bangsa asing.
Dari Sabang hinga Merauke, semua memperingatinya, setidaknya dengan mengibarkan bendera kebanggaan Indonesia di depan rumahnya masing-masing, menjadi suatu bentuk kecil kecintaan sekaligus kebanggan masyarakat pada tanah airnya ini. Entah, dari golongan elit hingga golongan terlilit sekalipun, tidak saja anak-anak belia bahkan para orangtua mereka pun ikut larut dalam peringatan setahun-sekali ini. Peringatannya memang hanya sekali, akan tapi semangat dan gelora kemerdekaan harus senantiasa hidup dalam setiap jiwa bangsa Indonesia. Agar tertanam kuat rasa kecintaannya pada negeri yang kemerdekaannya dibayar oleh cucuran darah para pahlawan.
Peringatan hari lahirnya bangsa Indonesia pun tak luput dari perhatian santri di pondok pesantren Cipasung Singaparna Tasikmalaya, yang pada minggu malam kemarin(16/08/15) menggelar tahlil dan doa bersama yang diikuti oleh ribuan santri, baik putra maupun putri.
Pada kesempatan itu, sebelum pembacaan tahlil, Ustadz Asep Nursyamsi(Pemimpin tahlil) mengatakan pada seluruh santri ”Kita harus merdeka, merdeka dari kebodohan, kemiskinan, kemalasan dan nafsu setan.”. Hal senada pun diungkapakan langsung oleh Ibu Neneng Nurlaela yang merupakan salahsatu Pembina asrama di Pondok Pesantren Cipasung saat membuka kegiatan perlombaan Agustusan pada sore harinya.
Selain menggelar tahlil dan doa bersama yang memang sebagai suatu tanda syukur atas kemerdekaannya Negara Indonesia. Santri Cipasung juga melaksanakan upacara peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-70 pada pagi hari tanggal 17 Agustus 2015 bertempat di lapangan asrama Selamet.
Disamping itu pula, setiap asrama mengadakan lomba agustusan bagi para santri. Seperti yang lumrah saja yaitu, panjat pinang, balap karung, futsal, menggambar poster para pahlawan dan lain-lain. Selain itu juga ada pawai atau karnaval, para santri turun ke jalan raya dengan kostum yang berhubungan dengan hari kemerdekaan serta membawa foster atau atribut-atribut yang lain, sembari menyanyikan lagu hari kemerdekaan.
Semua itu tidak lain adalah salahsatu upaya dalam menumbuhkan rasa memiliki dan kecintaan para santri, yang memang merupakan generasi selanjutnya, sehingga mereka senantiasa ikut andil dalam setiap gerak pembangunan dan perkembangan tanah airnya. Dan agar mereka pun ikut menemukan solusi untuk kesejahteraan bangsa.
Merdeka itu, untuk kita. Bukan untuk kalian, aku atau kamu saja.



No comments:
Post a Comment